Pengertian Puisi: Ciri ciri Puisi dan unsur unsur puisi

By | 10 Juli 2019

Pengertian Puisi

Pengertian Puisi merupakan salah satu bentuk sastra yang terkenal selain pantun. Biasanya, puisi dijadikan alat untuk mengekspresikan hal-hal tertentu. Lalu apakah pengertian dari puisi itu sendiri?

Pada umumnya puisi dapat didefinisikan sebagai sebuah karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan dari seorang penyair, dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis, serta mengandung, rima, ritma, dan irama dalam susunan larik dan bait-baitnya.

Pengertian lainnya adalah puisi merupakan sebuah karya sastra yang di dalam isinya mengandung ungkapan kata-kata tertentu yang bermakna kiasan dan penyampaiannya disertai dengan pola irama, larik, rima dan bait dengan gaya bahasa yang dipadatkan sehingga menghasilkan suatu bunyi yang khas. (Baca Juga: Struktur Proposal Sesuai Urutan)

Kemudian di zaman kontemporer ini, definisi dari puisi mengalami perkembangan. Salah satu definisi tersebut adalah puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak orang lain ke dunianya. Meskipun bentuknya singkat dan padat, umumnya orang lain kesulitan menjelaskan makna puisi yang disampaikan setiap baitnya.

Baca Juga

Pengertian Menurut Beberapa Ahli

Beberapa ahli modern memberikan definisi tentang puisi. Definisi tersebut dapat menjadi rujukan bagi kita yang ingin mengetahui lebih jauh tentang arti dari puisi. Berikut ini beberapa ahli yang ikut mengemukakan pendapatnya.

1. H.B. Jasin

Pengertian puisi menurut Jasin yaitu sebuah karya sastra yang diucapkan melalui sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung suatu pikiran dan sebuah tanggapan dari sang pencipta puisi tersebut.

2. Herman Waluyo

Waluyo, memberikan definisi tentang puisi yaitu merupakan suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memfokuskan semua kekuatan gaya bahasa dalam sebuah struktur fisik dan struktur batinnya.

Baca Juga: Pengertian Penelitian

3. Sumardi

Menurut pandangan dari Sumardi, puisi dapat diartikan sebagai suatu karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan kata-kata bermakna konotasi (kiasan atau imajinatif).

4. T. Watts-Dunton

Watsts-Dunton mengemukakan pendapatnya bahwa puisi adalah suatu ekspresi yang konkret (nyata) dan bersifat artisitk dari sebuah pikiran manusia dalam gaya bahasa emosional dan berirama.

5. James Reevas

Dalam kacamata James Reevas, puisi dapat diartikan sebagai sebuah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat.

6. Panuti Sudjiman

Panuti Sudjiman berpendapat bahwa puisi merupakan suatu karya sastra yang memiliki gaya bahasa terikat oleh suatu irama, matra, rima, dan disusun dalam bentuk larik (sajak) dan baitnya.

Unsur unsur Puisi

Sebuah puisi yang diciptakan oleh seorang penyair tentu memiliki karakteristik tertentu. Puisi dibentuk oleh struktur batin dan struktur fisik yang ada di dalamnya sehingga menjadi suatu satu kesatuan. Adapun unsur unsur dalam puisi adalagh sebagai berikut.

1. Struktur Batin

Struktur batin dalam kaitannya dengan karya puisi merupakan hakikat dari puisi itu sendiri. Jadi, struktur batinlah yang menjadi penekanan utama seorang penyair untuk meciptakan sebuah karya sastra puisi. Struktur batin dari puisi terdiri dari beberapa hal yaitu sebagai berikut.

a. Tema/Makna (Sense)

Ini merupakan unsur utama dalam sebuah karya sastra puisi. Melalui tema yang ingin diungkapkan oleh sang pencipta, makna dari puisi dapat diuraikan sendiri oleh para pembacanya dan mampu menyentuh perasaan utama. Inilah yang menjadikan tema masuk ke dalam struktur batin karya sastra puisi.

b. Rasa (Feeling)

Rasa (feeling), merupakan sikap sang penyair terhadap sebuah problematika yang akan diungkapkan dalam puisinya. Pada umumnya, ungkapan rasa ini sangat berkaitan dengan latar belakang sang penyair, misalnya agama, pendidikan, kelas sosial, jenis kelamin, pengalaman sosial, dan lain sebagainya.

c. Nada (Tone)

Nada merupakan sikap seorang penyair terhadap para pembacanya serta berkaitan dengan makna dan rasa. Dengan adanya nada ini, seorang penyair dapat menyampaikan suatu puisi dengan nada mendikte, menggurui, memandang rendah, dan sikap lainnya terhadap audiens.

d. Tujuan (Intention)

Tujuan dalam hal ini biasa dikenal juga dengan istilah maksud, amanah, atau pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair kepada para pembacanya. Akan tetapi, tujuan tidak hanya sebatas hal tersebut, melainkan bisa juga untuk memberikan suatu kritikan terhadap hal-hal tertentu.

2. Struktur Fisik

Struktur fisik dari suatu karya sastra puisi, biasa disebut juga dengan metode penyampaian hakikat dari diciptakannya puisi tersebut oleh sang penyair. Struktur fisik ini terdiri dari beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

a. Perwajahan Puisi (Tipografi)

Perwajahan puisi atau tipografi adalah bentuk atau format dari karya puisi, seperti pengaturan baris, tepi kanan maupun tepi kiri, dan halaman tertentu (yang tidak dipenuhi kata-kata). Perwajahan puisi ini sangat berpengaruh terhadap pemaknaan dari puisi itu sendiri.

b. Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang akan digunakan oleh sang penyair dalam menciptakan puisi. Diksi menjadi hal yang cukup penting karena melalui pemilihan diksi yang tepat, penyair bisa menyampaikan maksud atau pun amanahnya dalam bahasa yang indah untuk di dengar oleh audiens.

c. Imaji

Imaji merupakan suatu bentuk susunan kata-kata dalam puisi yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (mulai dari pendengaran, penglihatan dan perasaan) sehingga dapat mempengaruhi audiens seolah-olah merasakan yang dialami sang penyair.

d. Konkret

Kata konkret adalah suatu bentuk kata yang dapat ditangkap oleh indera manusia sehingga menimbulkan imajinasi. Kata-kata yang biasanya digunakan pada umumnya berbentuk kata konotatif (kiasan atau imajinatif), misalnya penggunaan kata ”batu karang” untuk menjelaskan kekuatan dari suatu objek seperti hati misalnya.

e. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi (kiasan) tertentu dengan bahasa yang figuratif sehingga mengandung banyak makna. Gaya bahasa ini disebut juga dengan majas seperti majas metafora, ironi, repitsi, personifikasi, hiperbola, pleonasme, dan masih banyak lagi lainnya.

d. Rima/Irama

Irama atau rima adalah adanya persamaan bunyi dalam penyampaian puisi, baik di bagian awal, tengah, maupun akhir. Beberapa bentuk rima yaitu sebagai berikut.

  • Onomatope, yaitu adanya peniruan terhadap suatu bunyi. Misalnya akhiran “an” yang mengandung efek magis.
  • Intern, yaitu pola bunyi berupa aliterasi, asonasi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak penuh, sajak separuh, repetisi, dan lain sebagainya.
  • Pengulangan kata, yaitu adanya penentuan tinggi-rendah pengucapan, panjang-pendek maupun keras atau lemahnya suatu bunti tertentu.

Jenis jenis Puisi

1. Puisi Lama

Puisi lama dapat diartikan sebagai sebuah puisi yang masih terikat oleh berbagai aturan tertentu, seperti ; jumlah kata per baris, sajak, suku kata per baris, dan juga irama puisinya. Beberapa jenis karya sastra berikut ini digolongkan ke dalam karya sastra puisi lama, yaitu

  • Mantra, yaitu uacapa-ucapan yang dipercaya oleh orang memiliki kekuatan magis tertentu.
  • Pantun, yaitu bentuk puisi lama yang umumnya terdiri atas empat larik dengan akhir (umum) ab-ab.
  • Karmina, yaitu pantun singkat yang berasal dari zaman Melayu klasik yang istilahnya saat ini adalah pepatah.
  • Seloka, yaitu pantun barkait yang lebih pendek dari pantun pada umumnya.
  • Gurindam, yaitu puisi yang biasanya terdiri dari dua bait, tiap bainya berisi dua bari kalimat dengan rima yang sama.
  • Syair, yaitu puisi yang terdiri dari empat baris dengan bunyi akhiran yang sama.
  • Talibun, merupakan pantun yang memiliki baris lebih dari empat dengan irama abcd-abcd.

2. Puisi Kontermporer

Puisi kontemporer adalah jenis puisi yang berusaha memiliki aturan se-bebas bebasnya atau keluar dari ikatan puisi secara konvensional. Jenis puisi ini menyesuaikan terhadap perkembangan zaman dan bahkan tidak mementingkan irama, gaya bahasa, dan hal-hal lainnya yang membedakannya dengan puisi lama dan puisi baru. Beberapa yang termasuk ke dalam puisi kontemporer adalah sebagai berikut.

  • Puisi mantra, mengambil sifat dari mantra.
  • Puisi Mbeling, puisi bebas yang sudah sangat jauh dari ketentuan umum puisi.
  • Puisi konkret, puisi yang lebih ke bentuk grafis (gerakan wajah) dan tidak menggunakan bahasa sebagai media.

Demikianlah artikel mengenai pengertian puisi, unsur unsur puisi, tujuan puisi dan ciri ciri puisi. semoga dengan adanya artikel ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *